
KELOMPOKBERAT.COM – Klenteng Sen Sen Kung atau Klenteng Soetji Nurani yang berdiri gagah di tepian Sungai Martapura, Banjarmasin sejak tahun 1898, menjadi saksi sejarah eksistensi warga Tionghoa sekaligus masuknya agama Konghucu di Banjarmasin.


Klenteng Soetji Nurani terletak di persimpangan antara Jl. Pierre Tendean dan Jl. Veteran (Pecinan Laut), Kelurahan Kampung Gadang, Kota Banjarmasin.
Perkampungan Tionghoa ini dahulu dikepalai letnan-letnan Tiongkok (Lieutenants der Chinezen), yaitu The Sin Yoe dan Ang Lim Thay. Mereka datang karena perdagangan melalui jalur sungai. Oleh sebab itu, permukimannya cenderung terkonsentrasi di sepanjang Sungai Martapura, seperti Veteran dan RK Ilir. Komunitas Tionghoa tersebut kemudian mendirikan sebuah klenteng yakni Klenteng Soetji Nurani yang masih terawat hingga saat ini.

Saat berkunjung ke Klenteng Soetji Nurani, rasanya bagai berkelana ke awal mula kedatangan masyarakat Tionghoa di Banjarmasin.
Klenteng Soetji Nurani berdiri megah dengan mayoritas dinding berwarna kuning dan merah. Bangunan utama klenteng cukup luas kurang lebih 15 x 25 meter, yang diisi dengan altar-altar dewa dan dewi, juga ornamen-ornamen untuk melakukan sembahyang.

Klenteng ini sangat menarik untuk dikunjungi karena pola penataan ruang, struktur bangunan dan ornamennya yang khas. Walau sempat mengalami pemugaran dari waktu ke waktu, Klenteng Soetji Nurani hingga kini masih mempertahankan bentuk dan keindahan arsitektur utama yang melekat di berbagai sudutnya seakan tak lekang dimakan waktu.


Arsitektur bangunan klenteng cenderung bergaya China dengan menerapkan prinsip Feng Shui. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut bangunan memiliki makna-makna tertentu yang menerapkan prinsip keseimbangan dalam Feng Shui.


Saat ini, klenteng tersebut dijadikan sebagai salah satu bangunan cagar budaya. Klenteng Soetji Nurani juga rutin menjadi tempat yang menarik perhatian warga Banjarmasin khususnya saat digelar atraksi barongsai di momen-momen Hari Besar keagamaan Konghucu.
----------------------------------------------------------------
Author : Muhammad Taqyuddin Zuwardi
Editor : Hikmah
Photo by : Muhammad Taqyuddin Zuwardi
Reference :
Rahmadani, R. (2016).
Widiastuti, K., & Oktaviana, A. (2012)
0Komentar