GfM5GpMpBUGiTUMoGfWoGUW0BY==

Headline:

MASKOT KOTA BANJARMASIN; ANTARA BEKANTAN, IKAN KELABAU DAN KESTURI


KELOMPOKBERAT.COM - Dalam KBBI, maskot berkedudukan sebagai kata benda yang memiliki arti orang, binatang, atau benda yang diperlakukan oleh suatu kelompok sebagai lambang pembawa keberuntungan atau keselamatan.

Penciptaannya maskot sebagai identitas daerah, menjadi penting eksistensinya. Pada satu sisi sebagai duta, maskot memiliki pesan sebagai representasi akan identitas spesifik atau ciri khas budaya suatu daerah, yang keberadaannya dikaji dengan benar sehingga memberikan pemahaman kepada khalayak akan identitas daerahnya.

Di sisi lain, maskot yang tercipta diharapkan dapat memberi dampak psikologis pada khalayak masyarakat dengan tujuan menimbulkan rasa cinta dan bangga pada daerahnya sendiri.


Sementara itu, Kota Banjarmasin merupakan kota terbesar di Kalimantan Selatan, Indonesia. Dijuluki sebagai "Kota Seribu Sungai", Banjarmasin memiliki wilayah seluas 98,46 km² yang wilayahnya merupakan delta atau kepulauan, terdiri dari sekitar 25 buah pulau kecil (delta) yang dipisahkan oleh sungai-sungai di antaranya Pulau Kembang, Tatas, Kelayan, Rantauan Keliling, Insan, Bromo dan lainnya. Hal ini tentu merupakan dampak dari letak kota yang berada di tepian timur sungai Barito dan dibelah oleh Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus.

Kota Banjarmasin dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana transportasi air, pariwisata, perikanan dan perdagangan. Bukan hanya itu, letak geografisnya yang unik juga menjadi habitat berbagai macam flora dan fauna.

Sama halnya dengan daerah atau kota lain di Indonesia, Kota Banjarmasin juga memiliki maskot yang menjadi ciri khas atau identitas daerah. Dapat kita ditemui berbagai macam patung yang dianggap sebagai maskot dari Kota Banjarmasin saat menjelajahi setiap sudut kota Banjarmasin.

PATUNG BEKANTAN


Patung ini terletak di Kawasan Siring, Jalan Piere Tendean, Banjarmasin. Patung ini dibuat oleh Studio Patung Suwarto di Yogyakarta.


Memiliki tinggi sekitar 6,5 meter, patung ini sempat menjadi pro kontra di masyarakat selama proses pembuatannya. Beberapa oknum beranggapan patung ini sebagai berhala, sehingga dinilai tidak pantas berada di Kalimantan Selatan yang masyarakatnya terkenal religius.

Namun, ada juga yang mendukung pendirian ini sebagai lambang kota. Dan pada akhirnya, patung ini resmi dijadikan maskot kota pada 10 Oktober 2015 silam.

Bekantan merupakan hewan endemik dari Kalimantan. Dikarenakan hilangnya habitat dan penangkapan liar yang terus berlanjut serta terbatasnya daerah dan populasi habitatnya, Bekantan dimasukkan ke dalam status konservasi kategori Endangered (Terancam Kepunahan). Selain itu Bekantan juga masuk dalam daftar CITES sebagai Appendix I, yang artinya tidak boleh diperdagangkan secara internasional.


Bekantan memiliki nama ilmiah Nasalis Larvatus, yaitu sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan. Ciri utama yang membedakan antara bekantan dengan monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan pada spesies jantan.

Bekantan juga memiliki perut yang cukup besar dikarenakan kebiasaan mereka yang suka mengkonsumsi makanan. Adapun makanan kesukaan bekantan adalah buah-buahan, biji-bijian dan aneka dedaunan yang menghasilkan banyak gas waktu dicerna.

Ciri lainnya adalah hewan ini dapat berenang dengan baik. Hal ini dikarenakan pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaput. Selain mahir berenang, bekantan juga dapat menyelam beberapa detik dalam air yang didukung oleh adanya semacam katup pada hidung bekantan.

PATUNG IKAN KELABAU


Patung Ikan Kelabau berlokasi di Bundaran Jalan Haryono MT, Kertak Baru Ulu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin. Memiliki tinggi ±4 meter, patung ini mulai dibangun pada awal tahun 2017 lalu untuk menggantikan posisi Taman Bundaran Close UP.


Sama halnya dengan pembuatan Patung Bekantan, Patung Ikan Kelabau juga pernah menjadi kontroversi. Ada yang berspekulasi bahwa pembuatan patung ini tidak perlu, ditambah hasil yang tidak sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah kota.

Ikan kelabau merupakan salah satu jenis ikan yang terbilang bernilai ekonomis tinggi karena harga jualnya di pasaran. Salah satu faktor tingginya harga ikan kelabau di pasaran ialah karena persediaannya yang sedikit. Hal inilah yang mendorong pemerintah daerah Banjarmasin untuk membuat patung ikan ini agar masyarakat, khususnya generasi muda dapat melihat bentuk fisik ikan kelabau ini dan tidak hanya mendengar dari mulut ke mulut saja. 

Selain dibuat menjadi patung, salah satu upaya lainnya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dengan melepaskan sekitar 10.000 bibit lele dan kelabau di perairan Sungai Tatah Belayung, Kelurahan Tanjung Pagar, Banjarmasin Selatan pada bulan Juni lalu. Hal ini juga dilakukan demi menjaga pasokan (restocking) ikan air tawar yang terkoneksi ke Sungai Martapura.



Ikan kelabau atau ikan hara memiliki nama ilmiah Osteochilus Melanopleurus merupakan jenis ikan tawar yang termasuk kelompok Cyprinidae, yaitu familia besar ikan air tawar yang terdiri dari golongan ikan mas atau ikan karper, ikan mas hias, minnow, dan kerabatnya. Sebutan lainnya untuk ikan ini adalah kelabau padi.


Ikan kelabau lebih mudah dikenali dari bagian mulutnya, batas bibir, dan sirip punggung yang panjang. Tubuh ikan berwarna hijau keabu-abuan dengan bercak keperakan dan bercak kehitaman yang melintang besar pada anterior tubuh ikan. Bentuk tubuh kelabau agak pipih dan memanjang. Bentuk tubuh tersebut membuat ikan berenang dengan cepat. Panjang tubuh maksimal ikan ini sekitar 30—50 cm.

PATUNG POHON KASTURI


Patung atau pahatan pohon kasturi ini dapat ditemukan di Taman Edukasi Banua Lalulintas yang terletak di Jalan AS Musaffa, Anatasa Besar, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin. Mangga khas Kalimantan Selatan ini sudah jarang dijumpai. Beberapa pohon kasturi yang masih ada sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun.

IUCN menyatakan bahwa status mangga kasturi dalam kategori terancam punah (Extinct in the Wild). Ancaman pembukaan lahan secara besar-besaran dan deforestasi diperkirakan sebagai penyebab punahnya keberadaan tanaman ini di alam. Selain itu, karena lama berbuah dan susah dibudidayakan membuat masyarakat tidak banyak yang mau menanam dan membudidayakannya lagi.


Mangga kasturi memiliki nama latin Mangifera casturi Kosterm, merupakan salah satu dari sekitar 31 jenis mangga yang dapat ditemukan di Kalimantan. Mangga dengan bentuk bulat telur, kulit buahnya menjadi kehitaman ketika mulai tua dan matang ini, terdiri dari tiga jenis yaitu kasturi, cuban, dan asem pelipisan.

Tinggi pohon mangga ini dapat mencapai 25 meter dengan diameter batang lebih kurang 40-115 cm. Kulit kayu berwarna putih keabu-abuan sampai cokelat terang, kadang kala terdapat retakan atau celah kecil sekitar 1 cm berupa kulit kayu mati dan mirip dengan jenis Mangifera indica.


Jika kulit batangnya disayat, maka akan mengeluarkan getah yang mula-mula bening, kemudian berwarna kemerahan dan menghitam dalam beberapa jam. Getahnya mengandung terpentin dan berbau tajam, sehingga dapat melukai kulit atau menimbulkan iritasi bagi kulit yang sensitif.

Bagian daunnya bertangkai, memiliki bentuk lanset memanjang dengan ujung runcing dan di kedua belah sisi tulang daun tengah terdapat 12-25 tulang daun samping. Daun yang muda memiliki tekstur menggantung lemas dan berwarna ungu tua.


Setelah penjabaran diatas, perlu diketahui bahwa berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan Fauna Daerah, maka mangga kasturi ditetapkan menjadi Flora Identitas dari Provinsi Kalimantan Selatan.

Berdasarkan SK Gubernur Kalsel No 29 Tahun 1990 tanggal 28 maret 1990, Bekantan ditetapkan menjadi maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Artinya, meskipun Batung Bekantan dan Patung Kasturi berada di Kota Banjarmasin akan tetapi kedudukannya bukan sebagai maskot Kota Banjarmasin melainkan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan, dilansir dari beritabanjarmasin.com ikan kelabau adalah ikon atau maskot sebenarnya dari Kota Banjarmasin hal ini berdasarkan berdasarkan PERDA Kota Banjarmasin.



----------------------------------
Author         : Siti Zahro
Editor     : Hikmah
Reference   :
1001malam.com
ngaderes.com
banjarmasinposttravel.tribunnews.com
banjarmasin.tribunnews.com
starbanjar.com
wanaswara.com
kalsel.antaranews.com
beritabanjarmasin.com
Daftar Isi

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads
Formulir
Tautan berhasil disalin