
KELOMPOKBERAT.COM - Tidak dipungkiri bahwasanya banyak sejarah kelam yang menyelimuti negara kita Indonesia dan aku yakin dari kalian semua mungkin udah pada tau atau pernah dengar soal sejarah pahit Kota Banjarmasin tahun 1997, ‘kan, ya? Jum’at Kelabu, sejarah terkelam yang pernah terjadi di Kota Banjarmasin yang banyak sekali menewaskan orang-orang tidak bersalah serta penjaharan yang membabi buta didalamnya.
Aku akan mengajak kalian untuk mengintip sejarah kelam ini berdasarkan hasil riset yang aku kumpulkan dari beberapa portal berita maya ataupun tulisan-tulisan yang sudah diterbitkan atau resmi (skripsi, etc) serta dari mulut ke mulut warga Kota Banjarmasin tentang peristiwa kelam tersebut.
Ada penurunan serta peningkatan pada masa orde baru saat itu, dimana perekonomian Indonesia berkembang sangat pesat, namun tak bisa ditampik, adanya praktik korupsi merajalela dan juga pengekangan kebebasan berpendapat, yang mengakibatkan banyak terjadinya konflik sosial, kerusuhan, serta penjarahan usaha nonpribumi. Dari peristiwa ini jugalah banyak hal yang berubah, mulai dari sosial masyarakat hingga pandangan politiknya.
Terjadinya Jum’at Kelabu bukan serta-merta karena hal tersebut, melainkan karena adanya konflik intoleransi umat beragama atau golongan. Pada pagi hari Jum’at, 23 Mei 1997 Kota Banjarmasin nampak biasa-biasa saja, segala aktivitas normal berjalan seperti sebelum-sebelumnya, bertepatan sekali hari itu Partai Golkar mendapatkan jatah untuk berkampanye atau menggelar hajatan besar-besaran pada saat pesta demokrasi (pemilu) di Republik Indonesia.
Awal peristiwa ini sebenarnya dipicu karena ada sikap intoleransi dari Partai Golkar (asumsi) yang saat itu mengenakan baju berwarna kuning mengendarai motor dengan ugal-ugalan dan knalpot bising (brong) menuju taman Kamboja (tempat hajatan partai Golkar), disaat umat muslim sedang khusyuk melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid Agung Noor yang dekat dengan tempat acara hajatan berlangsung. Insiden tersebut memancing kemarahan massa yang geram karena tingkah laku simpatisan partai tersebut kemudian digiring oleh beberapa oknum dengan mengaitkannya pada unsur SARA, hingga akhirnya suasana mengeruh dan terjadilah peristiwa mengerikan tersebut.

Masyarakat Banjarmasin tidak menduga sama sekali bahwa hari itu mereka akan dilanda suatu hal yang mengerikan. Keadaan Banjarmasin yang awalnya tentram dan terkendali seketika berubah menjadi medan peperangan oleh pihak-pihak yang berkepentingan politik dan mengakibatkan tak sedikit kerugian baik itu ekonomi, sosial dan terutama korban-korban yang berjatuhan pada peristiwa naas tersebut. Banjarmasin dihari itu sangat kontras dengan pembawaan kota damai dari segi agama maupun politik (local wisdom), yang selama ini terbangun di masyarakat setempat.


Dilansir dari (Khotimah, H., 2017), akibat dari peristiwa Jum’at Kelabu diduga sebanyak 123 orang dinyatakan tewas dan hanya 3 diantaranya yang dapat teridentifikasi dan diambil oleh keluarga korban, 118 orang terluka dan 179 lainnya dinyatakan hilang. 120 korban yang tewas akhirnya dimakamkan secara Islam dan adat di Pemakaman Umum (TPU) milik Pemda Kotamadya Banjarmasin di Jalan Bumi Selamat KM. 22, Kecamatan Landasan Ulin, Kabupaten Banjar.

Selain korban jiwa, Jum’at Kelabu berakibat pula kerugian pada rusaknya bangunan, fasilitas publik dan barang lainnya. Cakupan data di atas bersifat kisaran dan tidak dapat dikatakan akurat, belum pula mencakup dampak kerugian lainnya yang timbul seperti trauma psikologis, kehilangan pekerjaan dan lainnya yang tidak terdata.
Terdapat 2 titik tempat kejadian yang menjadi pusat kerusuhan terparah yakni Mitra Plaza dan kawasan di Jalan Lambung Mangkurat, dengan banyak kejanggalan ditemukan saat dilakukan evakuasi yang sampai saat ini masih menjadi teka-teki. Kekacauan ini bahkan sampai disorot oleh banyak media nasional hingga internasional. Namun, akibat pemerintah yang tidak kompetitif dan berita pers yang sangat terbatas berimbas pada tidak adanya laporan akurasi data yang dapat sepenuhnya dipercaya mengenai apa yang terjadi di lapangan sebenarnya, dan peristiwa ini segera terlupakan dan seakan berbahaya untuk terus diingat.


Sebagai bentuk upaya kesadaran akan pentingnya mengenang sejarah kelam tersebut, Dewan Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin Periode 2023/2024 menyelenggarakan Diskusi Jum’at Kelabu di lingkungan kampus UIN Antasari Banjarmasin. Salah satu penyelenggara diskusi yakni Pinky Manarul Alam, Menteri Kajian & Isu Strategis menuturkan bahwa dengan adanya diskusi tersebut, diharapkan kita semua dapat mengenang kejadian tersebut sebagai pembelajaran untuk saling menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat dan bernegara, dan agar tidak lagi terulang hal serupa kedepannya.

Meledaknya kerusuhan secara masif ialah gambaran nyata atas kekecewaan masyarakat terhadap politik dan ekonomi yang dirasakan masyarakat, didukung pula oleh tidak kondusifnya keadaan sosial yang ada, tentu ada akar-akar penyebab yang harus diperbaiki, karena bukan tak mungkin hal yang kurang lebih sama bisa saja terjadi sewaktu-waktu, terutama saat keadaan ekonomi, politik dan keamanan yang tidak stabil.

Jum'at Kelabu sepatutnya jadi pembelajaran berharga bagi kita semua, termasuk kita anak muda. Insiden ini mengajarkan adanya perbedaan pada semua orang, baik itu latar belakang, agama, strata sosial, bahkan pandangan politik yang dipegangnya. Namun perbedaan tersebut tak lantas jadi penghalang kita untuk saling menghargai antar sesama, karena perbedaan itulah yang membuat perjalanan hidup jadi lebih berwarna. Kita juga tak bisa lengah dengan sekitar, situasi yang damai belum tentu tidak ada konflik didalamnya, kita tentu tak ingin merasakan Jum'at Kelabu 2.0,’kan? ngeri-ngeri sedap kalau dibayangin.

--------------------
Author : Daniel Tampubolon
Editor : Hikmah
Referensi : Image by Instagram @wargabanua & Dok. Wildan Tarmuji
0Komentar